BOGOR — Kelurahan Tajur, Kecamatan Bogor Timur, terus menunjukkan taringnya dalam mengoptimalkan potensi wilayah serta menghadirkan pelayanan publik yang prima. Berbagai capaian strategis—mulai dari tata kelola kebersihan, penanganan risiko stunting, hingga pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)—dipaparkan langsung oleh Lurah Tajur, Ita Juita, pada Selasa (27/10/2026).
Membawahi wilayah seluas sekitar 45 hektar yang terbentang dari kawasan Ekalokasari hingga perbatasan Tajur di sisi kiri jalan utama, Ita bersama jajaran 6 Rukun Warga (RW) dan 25 Rukun Tetangga (RT) terus memperkuat sinergi pembangunan. Di sektor kesehatan sosial, langkah intervensi cepat yang dilakukan kelurahan bersama swasta terbukti efektif, di mana progres penanganan stunting di wilayah ini kini telah mendekati angka 80 persen.
Selain kebersihan lingkungan yang terus dijaga melalui edukasi dan kerja bakti, sektor UMKM lokal menjadi salah satu fokus utama pemberdayaan. Salah satu produk kuliner rumahan yang mendapat perhatian khusus dari kelurahan adalah kue semprong buatan warga setempat, Femi Febrianti.
Lurah Ita Juita menegaskan komitmen pihaknya untuk terus merangkul dan membantu memasarkan produk-produk unggulan warga agar bisa naik kelas dan dikenal khalayak luas.
“Kami sangat bangga dengan produk UMKM lokal, seperti semprong buatan Bu Femi yang rasanya renyah dan luar biasa. Kami ingin membangkitkan semangat para pelaku UMKM agar produk Tajur bisa dikenal lebih luas,” ujar Ita.
Camilan tradisional buatan Femi dikenal memiliki keunggulan pada cita rasa yang gurih, tekstur yang renyah, serta harga yang bersahabat. Produk rumahan ini dipasarkan seharga Rp15.000 per bungkus, atau Rp120.000 per kilogram untuk pembelian dalam jumlah besar.
Dalam perjalanan usahanya, Femi menuturkan bahwa bisnis kuliner ini dirintis secara mandiri dari bawah. Mulanya, ia mengandalkan promosi dari mulut ke mulut di kalangan keluarga dan tetangga. Seiring waktu, produknya mulai diminati hingga sempat dititipkan di swalayan Ngesti Pajajaran. Kini, sistem penjualan lebih banyak digerakkan melalui pesanan (pre-order), dengan lonjakan permintaan yang signifikan menjelang Hari Raya Idulfitri.
“Awalnya saya memasarkan dari mulut ke mulut, melalui keluarga, saudara, dan tetangga. Sekarang kebanyakan berdasarkan pesanan, terutama kalau menjelang Lebaran, permintaannya lebih banyak,” tutur Femi.
Di balik respons pasar yang positif, Femi masih menghadapi kendala klasik terkait kapasitas produksi. Seluruh proses pembuatan masih dikerjakan sendiri, sehingga jumlah hasil harian sangat bergantung pada tenaga dan waktu yang dimilikinya. Untuk mengolah tiga kilogram bahan mentah, ia membutuhkan waktu sekitar tiga jam di dekat alat panggang yang panas, dengan hasil produksi sekitar 16 bungkus per kilogram adonan.
“Proses pembuatannya cukup lama dan panas, jadi harus sabar. Kalau dikerjakan sendiri, paling banyak sekitar tiga kilogram bahan mentah dalam sehari. Suami pernah membantu, tetapi karena keterbatasan waktu dan tenaga, sekarang saya kerjakan sendiri,” jelasnya.
Meski harus berjuang menghadapi keterbatasan tenaga produksi, Femi tetap menjaga standar rasa dan kualitas orisinal produknya. Melalui program promosi dan pendampingan aktif dari Kelurahan Tajur, usaha kue semprong ini diharapkan mampu memperluas pangsa pasar serta menembus jaringan toko ritel modern.
Bagi masyarakat maupun konsumen yang berminat mencicipi kelezatan kue semprong buatan Femi Febrianti, pihak Kelurahan Tajur siap memfasilitasi informasi dan pemesanan lebih lanjut.
