BOGOR – Angka putus sekolah di Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah Kota Bogor melalui aparatur wilayah berupaya mengatasi persoalan tersebut dengan mendorong anak-anak putus sekolah untuk kembali mengenyam pendidikan melalui jalur nonformal.
Lurah Cimahpar, Arief Hidayat, mengungkapkan bahwa pada 2023 tercatat sebanyak 92 anak putus sekolah. Jumlah tersebut meningkat pada 2024 menjadi 193 anak, angka tersebut bertahan hingga 2025. Dengan catatan 43 anak sama sekali tidak sekolah.
Menurutnya, fenomena ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari rendahnya minat anak untuk melanjutkan pendidikan hingga kondisi ekonomi keluarga yang membuat sebagian orang tua kesulitan membiayai kebutuhan sekolah.
“Pemerintah Kota Bogor melalui kelurahan sudah berupaya hadir mengajak mereka kembali masuk satuan pendidikan, salah satunya melalui PKBM,” ujar Arief, saat ditemui di Ruang Rapat Kecamatan Bogor Utara, Rabu (15/04/2026).
Program pendidikan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) menjadi salah satu alternatif bagi anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah formal. Namun, Arief mengakui minat sebagian anak untuk kembali belajar masih menjadi tantangan tersendiri.
“Kita terus bergerak untuk menekan angka putus sekolah. Minat siswa jadi tantangan buat kami agar terus melakukan upaya-upaya agar minat anak untuk sekolah kembali tumbuh. Karena bagaimanapun pendidikan merupakan hak dasar masyarakat,” bebernya.
Kasus putus sekolah di wilayah tersebut juga cukup variatif, mulai dari jenjang sekolah dasar yang tidak melanjutkan ke SMP hingga siswa SMP yang tidak melanjutkan ke tingkat SMA.
Selain mendorong mereka kembali belajar, pihak kelurahan juga berupaya mencegah dampak sosial yang mungkin timbul akibat putus sekolah, seperti pergaulan bebas di kalangan remaja.
Untuk itu, para remaja yang tidak melanjutkan pendidikan dilibatkan dalam berbagai positif, salah satunya melalui program Rumah Dilan atau Rumah Pendidikan dan Pelatihan.
“Tujuannya agar mereka tetap memiliki kegiatan yang positif, menambah keterampilan, dan tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang negatif,” jelas Arief.
Pemerintah kelurahan berharap berbagai upaya tersebut dapat menekan angka putus sekolah sekaligus membuka peluang bagi anak-anak di wilayah tersebut untuk tetap mendapatkan akses pendidikan.

